Beranda »

SEJARAH LENGKAP BERDIRINYA SMK AL-BAISUNY

A. Fajar Baru Pendidikan di Kecamatan Kokop (Masa Pendirian)

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al-Baisuny—atau yang kini akrab dikenal di kalangan masyarakat dengan sebutan SMK Alby—merupakan Lembaga Pendidikan Kejuruan Swasta yang memegang peran historis sangat penting. Didirikan pada tanggal 12 Desember 2009, SMK Al Baisuny mencatatkan diri sebagai sekolah menengah kejuruan pertama yang berdiri di wilayah Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan.

Sekolah ini memilih titik pijak yang sangat strategis, yaitu di titik sentral Kecamatan Kokop, tepatnya di Jl. Raya Pasar Perreng, Desa Tlokoh, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan. Lokasi ini menjadi magnet pendidikan bagi zona bagian timur Kecamatan Kokop yang melingkupi wilayah geografis beberapa desa, di antaranya: Desa Tlokoh sendiri, Desa Mano’an, Durjan, Mandung, Tramok, dan Kokop. Tidak hanya menjadi tumpuan masyarakat lokal, dalam perkembangannya SMK Alby juga tumbuh menjadi mode alternatif tujuan pendidikan bagi masyarakat dari luar kecamatan, salah satunya adalah warga Desa Genteng, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan.

B. Akar Perjuangan dan Latar Belakang Sosial

Lahirnya SMK Al Baisuny tidak terjadi begitu saja, melainkan berangkat dari sebuah keprihatinan mendalam. Pada masa itu, wilayah Kecamatan Kokop, khususnya di zona bagian timur, mengalami ketertinggalan yang cukup signifikan di bidang pendidikan. Minimnya akses ke jenjang sekolah menengah membuat angka putus sekolah sangat tinggi. Fenomena ini membawa dampak domino yang buruk pada tatanan sosial masyarakat pedesaan, seperti maraknya fenomena pernikahan dini akibat putusnya akses pendidikan, serta tingginya angka pemuda yang memilih merantau ke luar daerah tanpa bekal keahlian yang madais.

Melihat kondisi tersebut, hadirlah tiga sosok putra daerah yang menjadi pelopor penggerak, yaitu Bapak Kholilurrahman, Bapak Syafi’i, dan Bapak Abdul Hadi. Ketiganya adalah potret pemuda lokal yang berhasil bekerja keras mengupayakan diri melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Didorong oleh rasa tanggung jawab moral untuk memberikan sumbangsih penuh bagi masa depan regenerasi bangsa, mereka membulatkan tekad mendirikan sebuah SMK.

Namun, jalan perjuangan tidak pernah mulus. Mengingat minimnya pemahaman masyarakat sekitar akan pentingnya pendidikan formal kala itu, berdirinya SMK Al Baisuny sempat diwarnai oleh tantangan berat. Muncul riak-riak penolakan dan ketidaksukaan dari sebagian kalangan karena berbagai persoalan internal dan sosial. Berbagai tantangan tersebut sempat menjadi bumerang yang mengancam keberlangsungan dan eksistensi awal sekolah ini. Namun dengan pendekatan yang persuasif dan niat yang tulus, badai tersebut berhasil dilewati.

C. Izin Operasional dan Langkah Visi Digital (Pemilihan Jurusan)

Titik terang mulai tampak pada tanggal 10 Februari 2010, ketika SMK Al Baisuny resmi menerima Surat Izin Operasional Swasta dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Surat keputusan ini menjadi legalitas sekaligus bahan bakar utama bagi dimulainya gerak roda pendidikan di SMK Al-Baisuny.

Sejak awal berdiri, sekolah menetapkan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) sebagai jurusan perdana. Keputusan krusial ini tidak diambil secara sepihak untuk kepentingan tertentu, melainkan melalui musyawarah besar dan mufakat bersama antara pihak Yayasan dan pengelola sekolah. Momentum bersejarah tersebut disaksikan langsung oleh Pembina Yayasan (KH. Mas’udi Suyuthi) dan Ketua Yayasan (KH. Hasib Sya’rony), serta tiga pelopor penggerak yang diketuai oleh Bapak Kholilurrahman (yang mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah sejak awal berdiri hingga saat ini).

Pemilihan jurusan TKJ dilandasi oleh tiga alasan visioner yang sangat kuat:

Pilihan ini terbukti sangat tepat; jurusan TKJ hadir bukan hanya sebagai alternatif, melainkan sebagai jawaban atas urgensi kebutuhan masyarakat di masa depan.

D. Menempa Diri dalam Keterbatasan (Masa Perjalanan Awal)

Pada masa-masa awal pengoperasiannya, SMK Al Baisuny belum memiliki fasilitas gedung sendiri. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menumpang di SMP Al-Baisuny yang terletak di sebelah barat gedung SMK saat ini. Karena keterbatasan ruang, ruang musholla SMP disulap menjadi tempat belajar bagi 20 orang siswa angkatan pertama.

Para siswa pionir ini berasal dari beberapa desa tetangga, seperti Desa Tlokoh, Mano’an, Kokop, dan Genteng. Jadwal sekolah pun harus mengalah dengan masuk setelah jam pelajaran SMP selesai, yaitu selepas salat Zuhur hingga sore hari. Kondisi memprihatinkan ini harus dilalui selama kurang lebih 2,5 tahun, sampai akhirnya sekolah berhasil membangun dua unit gedung pertama: satu gedung difungsikan untuk kantor dan satu gedung lainnya untuk ruang kelas mandiri.

Selama tiga tahun pertama hingga angkatan perdana lulus pada tahun 2012, roda operasional sekolah berputar dengan sangat mandiri. Sekolah menarik Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bulanan dari siswa secara bertahap, dimulai dari Rp 20.000 pada tahun pertama, hingga naik menjadi Rp35.000 pada tahun ketiga. Ujian kelulusan bagi angkatan pertama pun harus dilaksanakan secara menumpang di SMK 2 Bangkalan karena fasilitas laboratorium dan pemenuhan syarat mandiri yang belum mencukupi kala itu.

E. SMK Al Baisuny Hari Ini: Penjawab Problem Sosial

Kini, SMK Al Baisuny telah bertransformasi menjadi salah satu institusi pendidikan yang diperhitungkan. Kehadiran SMK Al Baisuny tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan diakui sebagai juru selamat yang berhasil memecah problem sosial akut di wilayah pedesaan Kokop.

Melalui pendidikan kejuruan yang terukur, SMK Al Baisuny terbukti sukses mencegah dan menekan angka pernikahan dini dengan cara membuka mata para remaja akan pentingnya masa depan. Sekolah ini juga berhasil meminimalisir angka keterputusan sekolah akibat tradisi merantau keluar daerah tanpa keahlian. SMK Al Baisuny telah berhasil mengubah stigma; dari ruang musholla yang sempit, kini melahirkan generasi-generasi cakap digital yang siap membangun daerahnya sendiri.

Bagikan Threads