

Kita hidup di dunia yang serba digital. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, kita dikelilingi oleh teknologi. Tapi, apakah kita cuma jadi “pemakai” saja? Atau kita bisa jadi “pencipta” dan “pemikir” di dalamnya? Di sinilah pentingnya coding dan literasi digital. Kedua hal ini kini menjadi elemen krusial dalam diskusi tentang teknologi dan pendidikan, mempersiapkan generasi muda bukan hanya untuk beradaptasi, tapi juga berinovasi.
Coding, atau pemrograman, adalah proses menulis instruksi agar komputer melakukan sesuatu. Ini bukan hanya untuk calon ilmuwan komputer. Belajar coding itu seperti belajar bahasa baru, tapi untuk berkomunikasi dengan mesin. Ini melatih cara berpikir logis, memecahkan masalah langkah demi langkah, dan bahkan mengembangkan kreativitas.
Bayangkan anak-anak yang belajar membuat game sederhana mereka sendiri, atau menciptakan aplikasi kecil yang memecahkan masalah di sekitar mereka. Ini bukan cuma keterampilan teknis, tapi juga melatih mentalitas “problem solver”. Dengan menguasai coding, siswa tidak hanya mengonsumsi teknologi, tapi juga bisa membentuknya. Ini adalah inti dari revolusi teknologi dan pendidikan.
“Belajar bukan persiapan untuk hidup; belajar adalah hidup itu sendiri.” – John Dewey
Literasi digital jauh lebih luas dari sekadar bisa mengoperasikan komputer atau smartphone. Ini tentang kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan membuat informasi secara efektif di lingkungan digital. Ini juga mencakup pemahaman tentang keamanan siber, etika digital, dan bagaimana menjadi warga negara digital yang bertanggung jawab.
Di tengah banjir informasi (dan misinformasi) di internet, kemampuan memilah mana yang fakta dan mana yang fiksi sangatlah penting. Literasi digital membekali siswa dengan ‘kacamata’ kritis untuk melihat dunia maya. Tanpa literasi digital yang kuat, potensi negatif teknologi bisa lebih besar daripada manfaatnya. Ini menjadi tantangan besar dalam implementasi teknologi dan pendidikan.
Integrasi coding dan literasi digital dalam kurikulum sekolah bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dunia kerja di masa depan akan sangat membutuhkan individu yang memiliki kedua keterampilan ini. Dari desainer grafis hingga ahli marketing, pemahaman dasar tentang cara kerja digital akan sangat berharga.
Selain itu, kedua keterampilan ini saling melengkapi. Coding mengajarkan kita cara membangun, sementara literasi digital mengajarkan kita cara menggunakan dan memahami dampaknya. Bersama, mereka menciptakan individu yang siap menghadapi tantangan dan peluang di era digital.
Untuk sekolah, ini berarti memperkenalkan coding sejak dini dengan metode yang menyenangkan (seperti game edukasi). Untuk literasi digital, ini berarti pelajaran tentang keamanan online, privasi data, dan berpikir kritis terhadap berita di internet. Peran orang tua juga penting untuk mempraktikkan etika digital di rumah.
Coding dan literasi digital adalah dua pilar penting yang menopang masa depan teknologi dan pendidikan. Keduanya membekali generasi muda dengan keterampilan esensial untuk tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang di dunia yang terus berevolusi ini.
Mari kita berinvestasi pada pendidikan yang memberdayakan anak-anak kita menjadi pencipta, bukan hanya konsumen teknologi!
Apakah anak kecil bisa belajar coding? Tentu! Ada banyak aplikasi dan platform yang dirancang untuk memperkenalkan konsep coding dasar kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan, bahkan tanpa harus mengetik kode.
Apa saja contoh literasi digital? Contohnya adalah tahu cara membedakan berita asli dan hoaks, memahami pengaturan privasi di media sosial, atau tahu cara melindungi diri dari penipuan online.
Apakah saya yang sudah dewasa masih perlu belajar literasi digital? Sangat perlu! Dunia digital terus berubah, jadi belajar literasi digital adalah proses seumur hidup bagi semua orang.
Berdiri sejak 2009, SMK Al Baisuny hadirkan pendidikan vokasi yang kreatif & inovatif. Cetak lulusan unggul yang religius demi masa depan gemilang.
Bergabunglah bersama SMK Al Baisuny, wujudkan mimpi jadi tenaga kerja profesional yang religius!
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !